Jafrizal : Setidaknya Ada 18 Penyakit Hewan ini yang perlu diwaspadai oleh Peternak atau Pemilik Hewan
Kilasnkri.com. Palembang,- vcorum Masyarakat Berdaya ( FMB) dan Forum Masyarakat Peduli Perternakan gelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pencegahan & Pengendalian Penyakit Ngorok (Septicaemia Epizootica) pada hewan ternak kerbau, Sapi & Kambing di Provinsi Sumatera Selatan”. Di Hotel Amaris Ballroom, Selasa ( 28/5/2024)
Yang menghadiri FGD Ki Edi Susilo selaku Founder Forum Masyarakat Berdaya, Ir. Ruzuan Efendi M.M selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan, Keynote Speaker: H. Derga Karenza, S.P., M.M, Deva Oktavianus Coriza S.E, M.Si selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Prov. Sumsel, Dr. Ahmad Lufhfi, SH. MH. Kanit Intelkam Polda Sumsel, Dr. drh. Jafrizal M.M selaku Ketua PDHI Sumsel, Abdul Kholek, S.sos., M.A selaku akademisi, Ketua pelaksana Focus Group Discussion Forum Masyarakat BerdayaTahun dua ribu dua puluh empat sekaligus ketua forum masyrakat peduli peternakan saudara M. Asri Lambo S.H (Sarjana Hukum), dan Para peserta FGD Forum Masyarakat Berdaya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel Ir.Ruzuan Efendi M.M mengatakan, penyakit ngorok (Septicaemia Epizootica) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella Multocida. Biasanya menyerang hewan ternak utamanya sapi dan kerbau dan hewan lainnya seperti babi kambing domba onta dan kuda. Gejala khas adalah suara ngorok atau mendengkur bengkak di daerah submandibula. Kerugian bagi peternak adalah kematian, penurunan berat badan dan penurunan produktivitas dan potong paksa.
Laporan penyakit ngorok (SE) ada di kabupaten OKI, Kabupaten Ogan Ilir m, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Empat Lawang dan kabupaten Musi Rawas Utara.
“Upaya pengendalian adalah dengan bio security yakni isolasi, pengaturan lalu lintas dan sanitasi. Kemudian vaksinasi, KIE (mengenali gejala klinis secara cepat dan tepat , pengobatan pada awal gejala muncul dan pemeliharaan dengan memperhatikan kualitas pakan dan kesehatan hewan,” ujarnya.
Upaya pengendalian adalah dengan menetapkan pejabat otoritas veteriner (POV) tingkat provinsi dan kabupaten kota. Kemudian mengeluarkan surat edaran pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan. Selanjutnya mengoptimalkan pendampingan petugas teknis peningkatan produksi peternak serta distribusi obat-obatan multivitamin desinfektan dan logistik.
Upaya pengendalian juga dilakukan dengan vaksinasi pada hewan sehat yakni distribusi vaksin SE 9.800 dosis, realisasi vaksin SE (iSIKHNAS) 6.747 dosis. Pelaksanaan pengobatan kuratif dan suportif, serta pelaksanaan dekontaminasi dan desinfeksi wilayah sekitar kandang.
Selanjutnya, bekerjasama dengan disposal hewan mati menggunakan alat berat atau excavator. Pengetahuan lalu lintas oleh POV untuk keluar masuknya hewan atau produk hewan atau media pembawa penyakit hewan dengan prinsip manajemen risiko.
“Kolaborasi antar stakeholder perangkat desa kelompok ternak untuk akses sumber pendanaan daerah,” katanya.
Lebih lanjut Ruzuan Effendi mengatakan, banyak faktor yang sebabkan kerbau rawa yang belum lama ini banyak yang mati di OKI tersebut. Salahsatunya itu terkait kebiasaan lepas liar hewan ternak ini oleh masyarakat. Dengan kata lain, hal tadi menyebabkan hewan ternak tersebut akan sangat rentan terkena penyakit.
” Di dalam kandang saja, potensinya masih ada apalagi yang dilepas liarkan begitu saja oleh pemiliknya, sehingga hal ini membuat ternak menjadi rentan terserang penyakit dan salahsatunya penyakit ngorok akibat bakteri SE. Untuk itu, kita juga himbau bagi pemilik ternak atau peternak untuk terapkan pola Pengandangan. Sehingga bisa dapat terus mengontrol kesehatan termasuk juga pakan yang diberikan. Jangan hanya diberi karbohidrat saja, tapi pastikan protein serta vitamin juga seimbang,” ulasnya.
Tidak hanya, untuk mengantisipasi semua hal tersebut terulang, pihaknya juga mulai mewajibkan peternak untuk memvaksinasi hewan ternak miliknya. Baik itu yang berada di kandang maupun yang dilepas liar. Untuk itu, program vaksinasi ini dilakukan secara serentak dengan melibatkan stakeholder terkait dan peternak atau pemilik hewan tadi. Hanya saja, karena jumlahnya yang terbatas, kemungkinan akan ada biaya.
” Selain di kandang, makanan hewan ternak ini juga harus seimbang, selain itu supaya bisa tetap sehat, pastikan jua hewan ternak ini divaksin dan mengontrol kesehatan dari hewan ternak tersebut. Semua langkah ini, akan kita libatkan pihak desa dan badan jua dinas terkait. Karena semua harus berjalan bersama dan tidak bisa sepihak saja,” ulasnya.
Sementara itu, Dr. drh. Jafrizal M.M selaku Ketua PDHI Sumsel mengatakan, Kejadian yang menimpa kerbau rawa si OKI beberapa waktu lalu, bukan karena virus melainkan karena bakteri yang dialami oleh kerbau rawa atau yang dilepas liar oleh pemiliknya. Kejadian ini terjadi terutama di musim penghujan, yang mana bakteri yang menjangkiti kerbau yakni Septicaemia Epizootica ini banyak ditemui di kawasan rawa. Di samping itu, di dalam kubangan air, bakteri tersebut bisa bertahan hidup hingga 10 hari. Selain itu, penyebarannya ataupun penularannya juga sangat cepat, sehingga hal ini menyebabkan kerbau banyak mati.
Di samping bakteri Jafrizal : Setidaknya Ada 18 Penyakit Hewan ini yang perlu diwaspadai oleh Peternak atau Pemilik Hewan
, terutama di musim hujan mendatang. Jangan sampai, karena fokus di dalam penanganan satu penyakit, maka belasan penyakit lainnya terabaikan. Maka yang paling nyata dan bisa ditemui matinya hewan ternak tersebut.
” Saat bakteri SE ini menjangkiti kerbau tadi, fokus petani pada penyakit mulut dan kuku (PMK) serta LSD, namun faktanya terjadi di lapangan, kerbau tadi banyak mati terkena bakteri SE yang penularannya sangat cepat tersebut. Untuk solusinya, yakni pemberian vaksin dan pakan ternak yang baik. Bukan hanya itu, kondisi lingkungan juga menjadi point’ yang sangat penting di dalam upaya meminimalisir penyakit pada ternak,” terang Jafrizal ( Ocha)

